Teman Dekat

Sebenarnya aku ingin bercerita agak panjang, tetapi karena ada malware yang sedang gencar berkeliaran itu, aku agak parno menyalakan wifi laptop seharian ini. Alhasil aku harus cukup puas bloging melalui handphone. (Anyway, laptop kalian aman kah?)

Aku ingin bercerita bahwa dalam proses kedewasan ini aku kehilangan beberapa teman dekat. Bahkan, aku tidak bisa lagi mendeskripsikan teman dekat itu seperti apa. Kadang aku jarang bisa hanya untuk sekedar bertukar pikiran karena aku bingung harus cerita kepada siapa. Intensitas curhatanku pun ke teman tidak sebanyak dulu. Sekarang aku cenderung pilih-pilih dan menyelesaikan masalahku sendiri. Dan bahkan aku kesulitan mencari teman untuk sekedar nongkrong ke mall atau jalan-jalan beli ice cream atau lisptik baru (apalagi teman yang ngajakin ke coban atau pantai atau lain-lainnya itu). 

Aku tidak tahu apakah hal ini wajar atau bagaimana. Lama-lama memang aku males jadi cerita sana sini. Atau memang aku yang kurang bisa menjaga hubungan pertemanan dengan baik (?). I don’t know, I just being me.

Namun memang lingkunganku sekarang berbeda ketika kuliah dulu. Lingkunganku bukan lagi lingkungan yang penuh dengan mahasiswa yang sedang belajar dan sibuk mengerjakan tugas. Sekarang aku sibuk bekerja. Kalau dulu sibuk mengerjakan tuhas dosen, sekarang sibuk menyiapkan materi mengajar, belajar materi ajar sambil mempersiapkan persiapan sekolah S2. Kalau mungkin dulu mahasiswa bisa seenaknya membolos, tetapi kalau sudah bekerja tentu tidak bisa seenaknya sendiri (jadi mahasiswa juga gaboleh seenaknya sendiri sih). Intinya ketika menjadi mahasiswa dan ketika sudah bekerja suasananya itu beda. 

Dulu aku sempat berfikir bahwa aku bisa menjadikan rekan kerjaku ini teman dekatku sekaligus, tetapi aku salah. Pertama, karena di kantor aku cenderung serius dan profesional. Ketika aku datang ke kantor, aku sudah niat untuk bekerja dan mengajar, jadi aku niat nggak bakal main-main atau sekedar mengobrol di kantor. Aku tidak suka waktu luangku di kantor terbuang sia-sia karena mengobrol atau menggosip, jadi lebih baik aku mengerjakan apa yang bisa aku kerjakan, sehingga pekerjaanku tidak akan menumpuk. Jadi, mungkin ini yang membuat aku tidak bisa akrab dengan mereka karena ketika bekerja aku jadi orang yang serius banget dan tidak suka buang-buang waktu. Kedua, aku pernah mau coba curhat ke temanku di sana, tetapi aku tidak merasa terlalu ‘klik’ dengan mereka. You know, teman itu juga jodoh, dan aku merasa tidak berjodoh dengan mereka. Aku tidak menemukan chemistry diantara kami (ceilah). Sehingga, hubungan antara kami di kantor hanya sekedar teman kantor, dan kami tidak saling sama-sama tahu tentang masalah personal dan lain-lainnya. It’s kinda weird actually. 

Oleh karena itu, aku cenderung mandiri. Dulu, aku merasa bahwa jalan-jalan ke mall sendirian itu hina banget, tetapi ternyata tidak juga. Meluangkan waktu untuk diri sendiri, ketika kamu sudah bekerja, and you are able to earn money, and you are free to spend it by yourself because you are a single amazing woman, I feel free. I can manage my own money, time, and everything. It is not as bad as I thought before. Yah, mungkin ini namanya proses pendewasaan dan aku juga harus belajar banyak hal. 

Kalau sekedar teman, aku punya banyak sekali teman. Bahkan aku sering lupa nama mereka jika lama tidak bertemu. Tetapi teman dan teman dekat itu beda. Yah memang sih, selain itu teman itu juga termasuk rezeki Allah swt, mungkin belum rezekinya juga aku dapat temen dekat yang ngga LDR. 

Mungkin di tempat kerja yang baru nanti, someday, selain bersikal profesional aku juga harus bisa menjadikan teman dekatku. Lagian di masa mendatang, insyaallah aku akan mendapatkan tempat kerja yang permanen, jadi harua bisa beradaptasi dan membuat diri ini nyaman. Dan semoga ketika aku sekolah nanti, aku bisa punya teman dekat yang terbaik buat aku. 🙌

Hater

Ada cerita yang sedikit lucu dan menjengkelkan hari ini.

Tadi siang aku bertemu dengan temanku di CFD (Car Free Day) setelah sekian lama. Lalu, dia menanyakan kabarku dan si dia, apakah benar aku putus dengan si K. Why on earth she brought that thing again. Sebegitu tenarnyakah hubungan kami (haha). Ternyata dia juga tahu dari temannya dia. Dan aku pun tidak pernah memberi tahu temanku dan temannya temanku tentang masalah percintaanku tersebut. (Ah, dasar tukang gosip :))

Yang mengesalkan itu ketika temannya temanku, sebut saja si hater, bercerita dengan bahagia dan tertawa. Dia bahagia karena aku putus, karena sebenarnya dia suka dengan mantanku. Dia bahkan dulu mengejar-ngejar mantanku. (Kalau aku yang dikejar-kejar dong, haha).

Aku tidak bisa menempatakan posisiku sebagai si hater ini. Mungkin dia senang karena aku putus. Ngapok-ngapokin gitu. Padahal ya, seharusnya dia sadar diri dong, kenapa mantanku ga sama dia. Dan walau mantanku sudah jadi mantan, ga rela banget kalau dia harus sama si hater. Selain itu si hater juga sudah punya pacar sendiri. Kenapa tidak mengurus hubungannya sendiri, kenapa malah menertawai hubunganku. Toh, dia tidak tahu cerita kami dari awal 🙂 Gemes juga dengan orang yang sok tahu, cuman dengar dari mulut ke mulut, tetapi tidak tahu ceritanya langsung.

Yah, lihat aja, langgeng ngga tuh hubungannya. Anyway, dulu ceritanya karena mantanku jadian sama aku, dia mendekati laki-laki lain, sebut saja si A. Nah, si A ini sebenarnya sudah punya pacar, tetapi LDR. Lalu, lama-kelamaan A dan Hater semakin dekat seperti pacaran, tetapi A tidak mau mengakuinya, sedangkan status whatsapp dan instagram Hater itu seakan-akan, “Ini loh, pacar aku.” Lalu, setelah satu semester, tiba-tiba hubungan mereka sudah official, dan pacar A yang sebelumnya entahlah itu bagaimana. Aku tidak mengurusi hubungan si Hater (lagian, siapa elo), sampai baru sekarang aku tulis di blog, karena aku sedikit merasa sebal dan lucu dengan sikap dia.

Urusin skripsi kamu aja deh mbak, daripada ngurusin putusnya aku dan K.

Tahun 2017 dan Ilmu Ghaib

Ibuku adalah salah satu orang yang diuji keimanannya dengan ilmu ghaib. Ketika maghrib, ibu kadang-kadang suka sakit-sakit di bagian tubuh tertentu. Lalu setelah maghrib, sakit itu hilang. Kadang juga ketika ibu di luar rumah sakitnya hilang, tetapi ketika ibu pulang sakitnya datang lagi. Sering juga ibu mimpi buruk karena diserang makhluk halus, sehingga sering teriak ketika tidur. Ibu tidur di lantai dua, suaranya sampai terdengar oleh kami yang di lantai bawah.

(more…)

Program Kelas IELTS Gratis (2)

Pada akhirnya, program ini tetap dilaksanakan di gedung tempat aku bekerja. Temanku bilang, karena mungkin program ini terakhir akan dilaksanakan bulan Mei, lebih baik dimaksimalkan saja. (Walaupun begitu aku tetap harus memotong jumlah jam mengajar). Yah, tetapi aku mengalah saja, karena aku tidak mendapatkan tempat yang pas.

( Yang belum baca cerita program kelas IELTS gratis yang pertama bisa dibaca disini yak).

Progam ini diadakan bulanan. Season satu dilaksanakan pada Bulan April, lalu yang kedua ini dilaksanakan pada bulan Mei. Pada bulan Juni, sudah memasuki bulan puasa. Aku belum tahu akan mengadakan program ini atau tidak. Kalaupun tetap diadakan, mungkin lebih seperti diskusi online, bukan kegiatan belajar-mengajar di kelas. Selain itu, sepertinya aku akan super sibuk mengurus persiapan keberangkatan ke Australia. Selanjutnya, aku belum tahu apakah ada yang bisa menghandle program ini atau tidak.

Pasalnya, program ini hampir 75% dijalankan olehku. Memang ada volunteer, tetapi tugas mereka hanya mengajar. Namun mulai dari pembuatan form peserta, form pre-test, form volunteer, poster program ini, sounding di blog, sertifikat volunteer, membuat group line peserta, email-in peserta-peserta yang teledor tidak mengerjakan pre test, dan membuat outline kegiatan belajar mengajar, itu semua aku. Aku agak sungkan minta tolong volunteer untuk hal-hal seperti ini karena jelas mereka mempunyai kesibukan sendiri, dan aku tidak tahu apakah apa yang mereka kerjakan akan sesuai dengan ekspektasiku atau tidak (haha, sepertinya aku harus belajar menjadi pemimpin yang baik). Walaupun begitu, logo program ini dibuat oleh salah seorang temanku yang volunteer juga.

Yah, semoga season 2 ini lebih lancar dari season 1. Sebenarnya season 1 kemarin dalam hal volunteer, kelas, dan silabus, udah oke banget. Semuanya lancar dalam kegiatan belajar-mengajar. Sayangnya, banyak sekali siswa yang membolos. Kelas A, dari 24 siswa, paling banyak yang datang 7 siswa, sedangkan kelas B dari 7 siswa, paling banyak yang datang 3 siswa. Parahnya, ketika minggu terakhir, 3 kali kelas kosong tanpa murid, sedangkan volunteernya sudah datang. Kelas yang aku pegang sendiri, ketika hari terakhir justru yang datang hanya 1 orang, laki-laki pula, rasanya sangat awkward di dalam kelas waktu itu.

Aku sangat sedih waktu itu, dan aku merasa season 1 ini cukup gagal.

Entah kenapa kami kedapatan murid seperti itu. Bisa saja mungkin karena ini gratis, so they have nothing to lose. Atau bisa saja karena mereka sebenarnya tidak terlalu butuh les IELTS. Logikanya, kalau butuh banget pasti rajin datang kan. Kelas memang diadakan setiap 7.30 dan 16.00, karena tentu aku harus mengalah dengan kelas reguler yang peak-nya jam 09.00 sampai 16.00. Kalau mereka berasalasan dengan masalah jadwal, itu salah mereka sendiri, karena aku sudah menjelaskan panjang lebar di blog dan formulir yang mereka isi. Dan ujung-ujungnya mereka ga datang. Itulah kegagalan di season 1, muridnya banyak yang datang.

Untuk menghindari kesalahan itu terulang lagi, aku edit blogku dan aku tulis sedetail-detailnya. Di form pendaftaran pun, aku tulis ulang lagi. Namun. kadang orang niatnya baik, ada aja ya yang bikin sebal.

Pertama, sampai sekarang dari 70 pendaftar, hanya 2o-an yang mengisi pre test. Padahal ya, sudah aku tulis dan jelaskan di blog. Link pre test aku letakkan persis di bawah form, dan sudah ada instruksi untuk mengerjakan pre test. AKU GREGETAN. Entah kok bisa mereka tidak baca atau gimana, what’s wrong with these people .. Bahkan aku sampai rela email mereka satu-satu buat isi pre test. It takes timeeeee, you know ..

Kedua, ketika aku menyebar tentang program ini aku tidak pernah memisahkan form students, from pre test, dan form volunteer. Pokoknya itu satu kesatuan, kalau aku sebar di line, instagram, faebook, pokoknya link itu gandengan. Lah kok memang ternyata ada oknum-oknum tertentu yang menyebar ga semuanya, tetapi menyebar link studentsnya. Aku tahu karena ada seseorang yang chat aku tentang ini dan dia bilang teman dia hanya menyebar link form students tanpa form pre test. Pengen muntab rasanya, tapi untung saja aku bisa menjelaskan ke mbak itu dengan sabar.

Kayaknya beneran deh, kebanyakan orang Indonesia kurang suka membaca, bahkan kadang hal sejelas itu, mereka kok bisa-bisanya nggak ngeh dan menanyakan hal-hal yang sudah jelas-jelas tertulis di blog.

AKU SABARO.

Udah, gitu aja curhatanku. Semoga seaosn II ini lancar.

Bagi teman-teman yang baca postingan ini dan tertarik ikut, email halokes.ielts@gmail.com, ya, nanti aku kasih infonya. :)))))

 

Review Lipstik Ala Agik

Hai gengs, sekarang aku mau review beberapa lipstik yang aku pakai (hehe). Sebenarnya aku juga bukan seorang profesional di bidang per-makeup-an yang yang kalau pakai make up biasanya dikasih contour ini itu, concealer ini itu. *feeling meh*. Menurutku itu terlalu ribet dan berlebihan untuk penggunaan sehari-hari. Aku juga tidak memakai semacam pembentuk alis, karena aku sudah suka alisku yang begini-begini saja. Jadi, kalau pakai make up, mungkin aku cuman pakai BB+ dan lipstik. *yeay*

Nah, buat temen-temen perempuan yang lagi baca ini, review ini lumayan buat kalian yang pengen beli lipstik baru, sedangkan untuk laki-laki biar kalian setidaknya tahu sedikit-sedikit tentang lipstik lah, seperti apa bedanya matte dan glossy, dan kalian bakalan tahu kalau lipstik bentuknya ga batangan aja, tapi ada yang versi cair namanya lip cream. Hehehe. Sebenarnya ada jenis yang lain yang bukan batangan, seperti lip tint, tetapi aku nggak pakai itu. *Kapan-kapan aku jelasin deh

So, heeeeere we goeeees ladies and gentleman ~ Aku bakal review, dari yang paling aku ga suka dan paling aku suka: (more…)

I lost One Love, and Receive Lots of Love

Caption Instagram

Kemarin lusa, aku membuka aku instagramku seperti biasa. Aku sudah lama tidak kepo akun mantan, but why on earth it pops up in my timeline. Mungkin Allah SWT menginginkannya seperti itu, karena tidak ada kejadian yang kebetulan, semua sudah diatur. Sebenarnya tidak masalah dia nongol di timeline instagram, tetapi masalahnya adalah caption yang dia tulis: something about with his someone new in the future.

Wow, that’s fast boy. (more…)

Aku Mencintai Orang yang Kurang Tepat

Sebenarnya banyak hal yang ingin aku ceritakan di bulan Maret – April, tetapi banyak pekerjaan di kantor dan ada proyek buku dengan dosen, sehingga aku tidak punya waktu. Di kantor, selain pengajar aku bergerak di bidang promosi. Aku memegang instagram tempat bimbingan belajar kami di ikatan alumni dan memasang iklan di beberapa akun instagram yang followernya sampai 32K. Selain itu, kami memasang poster ke fakultas-fakultas dan menaruh brosur di perpustakaan pusat. Alhasi, murid kami tiap minggu selalu bertambah. Sedangkan yang proyek dengan dosen, beliau ada dana hibah buku. Semacam itu. Aku diajak sebagai asisten. Karena waktunya mepet, kami benar-benar harus bekerja keras agar selesai sebelum deadline. Jadi, daripada aku menulis di blog, lebih aku menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan itu.

Beberapa hari lalu aku menyempatkan lagi menulis di sini, tetapi aku malu sendiri. Karena dikerjakan dengan buru-buru, kualitas tulisanku berkurang. Aku tidak memperhatikan apakah itu akan enak dibaca pembaca atau tidak, yang penting aku bisa melepas stres.

Dan, sekarang aku ingin bercerita tentang aku di bulan Maret-April.

IELTS. (more…)

04-04-2017

Aku kerja di Gedung Ikatan Alumni di kampusku. Temanku merintis sebuah Pusat Pelatihan Bahasa di gedung tersebut. Selain kami, ada juga karyawan-karyawan yang mengurus kartu alumni.

Yang aku agak heran, aku dan teman-teman merasa karyawan di sana menganggap kami sebagai pesaing atau lintah. Padahal ada atau tidaknya kami tidak akan mengurangi gaji mereka, toh mereka bukan pengusaha atau pebisnis yang jasa atau produknya bakal berkurang dengan adanya kami. Tugas mereka cuman mengurus kartu alumni. Why on earth mereka iri begitu. Bahkan, sebenarnya kami disini dikenai pajak. Jadi kami membayar sekian persen ke pihak ikatan alumni.

Kemudian, di gedung ini, ada dua bapak kebersihan. Yang pertama sudah sepuh dan ramah, sedangkan yang kedua orangnya jutek, tidak pernah tersenyum, dan kalau disalami tidak menjawab. Ih.

Pagi-pagi aku sudah disemprot oleh bapak jutek itu. Pasalnya aku mengambil kunci kelas atas tanpa izin. “Mbak, kalau ambil kunci bilang ya. Biar tahu sopan santun gitu lo.” Intinya bapak itu bilang begitu. Mungkin aku salah juga, tetapi menurutku kalau perihal sepele begitu tidak perlu selaya itu. Toh kami biasanya juga pakai kelas atas dan mengambil kunci di tempat yang sama. Namun pagi tadi memang, aku sendirian dan teman-teman yang lain belum datang ke kantor. Sehingga akulah yang menjadi tumbal. wkwk

Aku datang pagi sekali karena kantor kamu mengadakan simulasi TOEFL ITP. Hari ini peserta cukup banyak, jadi kalau tidak datang pagi-pagi yang bisa kelabakan karena harus persiapan.

Singkat cerita, you know what, aku melakukan kesalahan besaaaaaar. Aku bertugas membuat soal listening. Lalu, soal listening aku campur soal di buku A dengan soal di buku B dan audionya aku edit dan gabungkan. Namuuun, aku tidak mendengarkan dengan habis, dan soal ada yang kepotong.

Rasanya langsung lemes, tetapi untung saja bisa diperbaiki. Memang sih, kita tidak akan belajar kalau tidak ada kesalahan. Tetapi aku jadi tidak enak dengan teman-teman kantor 😦 Dan merasa bersalah to the max.

Aku Mencintai Orang yang Salah

It’s been 4 month after our break. Dan gilanya aku masih terbawa perasaan, aku masih menoleh ke tempat yang sama dimana dia parkir sepeda montornya itu. Aku masih ingat parfumnya dan lucunya dia seperti apa. Dan ketika menulis ini aku harus menahan air mata sekuat tenaga karena itu semua cuma kenangan, dan aku gamau mataku bengkak di kantor.

Trust me, aku sudah berusaha untuk ikhlas, move on, dan aku bahkan punya kesibukan yang menggunung, but still perasaan ini masih ada.

Lalu, temanku bilang, mungkin kamu terlalu berusaha dis, justru kalau terlalu berusaha itu kamu gak bisa move on. Entahlah yang mana yang benar.

Allah maha membolak-balikkan hati, tetapi entah kenapa aku masih diberi ujian seperti itu.

Huff 😦 Itu semua ada hikmahnya kan?

Seperti biasa, tulisan ini akan menjadi kenangan dan cerita jejak langkahku dalam melupakan dia, ha. 🙂

#Day 7: Bye Pare!

Ayah dan ibu berkata bahwa sebaiknya aku pulang saja dan pada akhirnya aku turuti walau berat, karena sepertinya kemungkinan kecil aku balik ke Pare lagi. Orangtua memintaku untuk mengemas semua barangku. Yasudahlah, batinku. Toh aku sebenarnya kurang betah disini dan justru kurang bisa belajar dengan maksimal. Namun aku sedih juga karena sudah habis uang cukup banyak disini, tetapi ujung-ujungnya aku sakit dan harus pulang.

Aku mengemas barangku dengan perut mules. “Yah, Mbak Agik pulang, ya?” kata teman-temanku.

“Iya, aku mau dijemput oleh ayahku.”

Lalu, ayahku pun tiba sekitar pukul 11. Aku pamit ke semua teman-teman disana. Mama lucu, masa dia menyediakan popok dewasa. Ya aku memang diare, tetapi tidak separah itu yang sampai keluar-keluar sendiri begitu. ><

Sambil perjalan pulang, aku memeluk selimut dan berfikir bahwa semua pasti ada hikmahnya, kenapa aku harus sakit. Setidaknya aku tahu seperti apa kualitas belajar di lembaga disana, suasana disana, suasana asramanya, dan lain sebagainya.

(more…)

#Day 6: Diare di Malam Minggu

Halo! hari ini aku akan melanjutkan series “Belajar di Pare” yang sudah mulai agak kasep (baca: lawas). Cerita di hari ke 2, 3, 4, 5, bisa bica di tautan tersebut. Aku lupa tidak membuat cerita di hari pertama.


Perutku rasanya tidak enak siang itu. Mungkin gara-gara karena ketika jumat malam aku makan lalapan yang sepertinya kurang matang masakan terongnya, yang bodohnya tetap aku makan. Oleh karena itu, aku tidak makan siang dan hanya minum susu. Yang sorenya justru aku malah diare. Aku tidak mengecek tanggal kadaluarsa susu kotak yang aku minum, karena aku beli di swalayan yang aku percaya mereka pasti memeriksa jualan mereka yang mereka pajang apakah kadaluarsa atau tidak. Namun, aku jadi sangsi, aku merasa susu yang aku minum kadaluarsa karena aku langsung mules-mules. (more…)

Hairband

This hairband is one of my favorite things. If you may ask, first, because it is red and second, because someone gave this to me in my birthday a year ago.
Due to its importance, I barely use this one to tie up my hair (haha). I often lose hairbands and even I could lose tens in a month. That is why I don’t want to wear this one because i’m afraid that someday I will lose it.
Anyway, I think most of the girls also lose their hairbands easily. We put it somewhere and then forget where we put that little thing. Although we easily forget about it, girls likely to remember about dates, important occasions in their life, and even a conversation with someone. For instance,  I still remember the day when I met that someone in an event and I even still remember the conversation that we had. Pretty insane, right? 😅

The Luddites; The Angkoters

Sebelum revolusi industri terjadi, masyarakat menggunakan sistem tradisional dalam membuat pakaian. Bahan baku dibuat secara manual, baju-baju ditenun secara manual, dan diantar ke rumah-rumah secara manual pula. Tentunya membutuhkan proses yang sangat lama dan produk yang dihasilkan tidak bisa massive. Kemudian, pada tahun 1800-an, Eropa diperkenalkan dengan mesin-mesin yang mampu menghasilkan produk dengan cepat, murah, dan banyak; yang secara radikal merubah sistem kerja masyarakat yang semula tradisional menjadi modern. Maka, untuk mencari nafkah para pekerja yang awalnya kerja di rumah-rumah harus pergi ke parbrik karena mereka tidak mampu membeli mesin sendiri.

Perubahan ini tentunya tidak dapat diterima oleh semua orang. Kaum Luddites (yaitu istilah untuk orang-orang yang tidak bisa menerima dengan adanya teknologi baru), memulai pemberontakan dengan menghancurkan mesin-mesin di pabrik, membakar pabrik; yang membuat kerugian puluhan juta. Pemberontakan Luddites ini terjadi sekitar tahun 1811-1812. Memang sih, dengan adanya teknologi baru, membuat keluarga yang perekonomiannya menengah dan menengah kebawah menjadi semakin sulit, karena mereka tidak mampu bersaing dan harga makanan semakin melangit. Namun, perubahan seperti kemajuan teknologi akan selalu terjadi seiring perkembangan zaman dan tidak dihindari.

Zaman 2017 ini, masih ada orang-orang Luddites, yang menolak dengan munculnya teknologi baru, di kota Malang misalnya. Dari minggu lalu hingga sekarang, yang puncaknya hari Senin (20 Februari), angkutan umum dan taksi konvensional memprotes dengan adanya angkutan online seperti gojek, uber, dan grab. Well, mereka hanya menyebutkan itu. Mereka sepertinya tidak tahu kalau banyak ojek online juga yang bisa dipesan di Line seperi Ojek Baper, Oke-jek, dan lain-lainnya, jadi so far ojek Line Malang ini sepertinya aman (I guess).

Seperti kaum Luddites pada zaman revolusi industri, mereka juga memberontak dengan cara ‘preman’. Tidak sedikit driver angkutan online yang diancam, dijebak, dikeroyok, dan kendaraannya dirusak. Karena penulis sering memakai jada angkutan online baik yang sepeda montor atau mobil, penulis selalu dicurhati para driver tersebut. Banyak sekali cara menjebaknya. Misalnya begini, seorang sopir taksi konvensional memesan angkutan online ke daerah yang sepi. Ketika mobil datang ke tempat yang sepi tersebut, mobil dipukul, dirusak oleh beberapa oknum. Sudah dilaporkan ke polisi, tetapi tidak ada saksi. Licik sekali bukan. 

Penulis paling kasihan dengan angkutan online yang menggunakan sepeda montor, karena mereka mudah dijebak seperti itu. Namun untuk mengantisipasi penjebakan itu, angkutan online seperti gojek tidak menggunakan atribut gojek dan tidak meletakkan hape mereka di depan kendaraan, sedangkan yang menggunakan mobil bertukan kendaraan dengan teman mereka sehingga nomor plat akan berbeda dengan yang di aplikasi. Ketika nomor plat beda dengan yang di aplikasi, tentu yang menjebak tidak akan menemukan mobil tersebut. Jika sepertinya terancam, driver yang menggunakan mobil bisa langsung meng-cancel pesanan dan pergi. 

Jadi, alih-alih memperbaiki jasa mereka, mereka malah menyalahkan teknologi, dan mengancam sana sini. Lantas,  konsumen mana yang mau simpati dengan angkutan umum atau taksi konvensional kalau begitu? Padahal bukan salah angkutan online, karena pelanggan memilih angkutan online karena banyak hal, misalnya murah, cepat, nyaman, dan diantar langsung ke tempat tujuan. Seharusnya, tidak perlu ada kekerasan seperti itu, tetepi mereka harus ‘ngeh’ juga dengan perkembangan teknologi dan meningkatkan pelayanan.

Di kota kalian bagaimana?

Dear Heart, Don’t Break (2)

Terimakasih untuk teman-teman yang sudah berkomentar dan menyemangati. It leaves me speechless. *muah*

Yah memang dimana-mana move on butuh waktu. Masa ketika aku tanya adikku, dia bilang kalau nggak 3 bulan ya 1 tahun. Dasar ngacau. Move on, melupakan seseorang memang tidak mungkin, yang mungkin itu melupakan rasa yang pernah ada. Ya nggak sih. 🙂

Daaan, namanya juga hidup, kita akan selalu dapat masalah. Entah seberapa capek yang kita rasa, tapi namanya juga orang hidup. Kita hanya punya dua pilihan, yaitu capek dan mengeluh atau menghadapi masalah itu.

Aku berusaha menghadapi masalah-masalahku itu , dan berusaha berubah tidak terlalu emosianal lah setidaknya (walupun sebenarnya aku masih sering menangis sih). Menangis tidak apa-apa, asal tidak terus-terusan, kemudian setelah itu harus berbuat apa untuk menyelesaikan masalah itu.

Kalau sedih, ya masih sih, kadang-kadang. Namanya juga perasaan, yang somehow suka muncul tiba-tiba. Kadang aku bingung kalau ada yang bilang, ‘Gik, jangan sedih ya.’ atau ‘Gik, udah jangan setres.’ Ya aku mau banget lah gak sedih atau gak setres, tetapi caranya itu yang aku belum tau. Karena itu tadi, perasaan itu suka muncul tiba-tiba.